Selasa, 11 November 2014

model-model kepemimpinan



MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN

1.       Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler)
Model kontingensi diciptakan oleh E. Fiedler. Model ini menjelaskan bahwa pemimpin akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda. Tidak ada pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi.

Terdapat 3 ( tiga ) sifat situasi yang berpengaruh terhadap efektifitas kepemimpinan, yaitu:
a.      Hubungan antara pemimpin dan anggota merupakan variabel yang sangat kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan.
b.      Derajat susunan tugas, merupakan masukan kedua yang sangat penting untuk situasi yang menguntungkan.
c.      Kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melaui wewenang formal, adalah dimensi sangat kritis yang ketiga dari situasi.

2.       Model 3 Dimensi Kepemimpinan  (Reddin)
Model 3 Dimensi Kepemimpinan atau yang juga dikenal dengan sebutan 3-D model karena menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan, yaitu:
a.      Kelompok gaya dasar, terdiri dari gaya pemisah, pengabdi, penghubung, dan terpadu.
b.      Kelompok gaya efektif, terdiri dari gaya birokrat, otokrat bijak, pengembang, dan eksekutif.
c.      Kelompok gaya tak efektif, terdiri dari gaya pelari, otokrat, penganjur, dan kompromis.


3.       Model Kontinum Kepemimpinan (Tannenbaum dan Schmidt)
Model ini berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin dalam memilh gaya kepemimpinan yang akan dilakukan. Ketiga factor tersebut, yaitu:
a.      Kekuatan pimpinan, misalnya latar belakang pendidikan, pengetahuan, latar belakang kehidupan pribadi, pengalaman, kecerdasan, dsb.
b.      Kekuatan bawahan, hal ini menyebabkan pimpinan memilih gaya demokratis apabila bawahan sangat membutuhkan ketidaktergantungan dan kebebasan bertindak, ingin memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan.
c.      Kekuatan situasi, hal ini mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan seperti suasana organisasi, tekanan waktu, kelompok kerja khusus, dan faktor lingkungan lainnya.

4.       Model Kontinum Kepemimpinan Berdasarkan Banyaknya Peran Serta Bawahan dalam Pembuatan Keputusan (Vroom-Yetton)
Dalam model ini terdapat dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan bawahan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan, antara lain :
a.      Tingkat efektivitas teknis diantara para bawahan
b.      Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan

5.       Model Kontingensi Lima Faktor (Farris)
Dalam model ini, pengaruh terhadap perilaku pemimpin dapat datang dari pemimpin itu sendiri atau dari bawahan dan dapat disalurkan secara berbeda antara kedua pihak tersebut. Ketepatan jenis perilaku pemimpin tergantung pada 5 faktor, yaitu:
a.      Wewenang pengawasan terhadap masalah yang ada
b.      Wewenang anggota kelompok terhadap masalah
c.      Pentingnya penerimaan dari pemberian keputusan terhadap pimpinan
d.      Pentingnya penerimaan keputusan terhadap anggota kelompok
e.      Tekanan waktu


6.       Model Kepemimpinan Dinamika Kelompok (Dorwin Cartwright & Alvin Zander)
Menurut model ini, terdapat dua macam perilaku kepemimpinan, yaitu :
a.      Pencapaian beberapa sasaran kelompok khusus, identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan tugas.
b.      Pemeliharaan dan penguatan kelompok itu sendiri, identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan hubungan antar orang.

7.       Model Kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House)
Pendekatan model kepemimpinan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan dan mencoba memprediksi bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan bawahan.

8.       Model Kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” (Graen)
Model kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” ini disebut juga dengan model “Vertical Dyadic Theory” oleh Martin J. Gannon. Model kepemimpinan jenis ini menitikberatkan pada “dyad” yaitu hubungan antara pemimpin dengan tiap bawahannya secara bebas. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada tiap bawahan. Tiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada bawahannya.


9.       Model Kepemimpinan Sistem (Bass)
Model Kepemimpinan Sistem terdiri dari:
1. Input
a.      Organisasi yang meliputi batasan, kehangatan, kejelasan, entrope, dan lingkungan luar.
b.      Kelompok kerja yang meliputi pertentangan didalam, saling tergantung, dan tanggung jawab pada kelompok.
c.      Tugas yang meliputi umpan balik, rutin, memilih kesempatan, kerumitan, ciri-ciri manajerial.
d.      Kepribadian bawahan yang meliputi kerjasama, kekuasaan, otoriter, dan memusatkan perhatian dan pikiran pada diri sendiri.
2. Hubungan
a.      Pembagian kekuasaan antara pimpinan dan bawahan
b.      Penyebaran informasi antara atasan dan bawahan
c.      Struktur ketat dan struktur longgar
d.      Tujuan jangka pendek dan jangka panjang
3. Perilaku Pemimpin
a.      Direktif, pemimpin memberitahukan kepada bawahannya apa yang mereka inginkan.
b.      Manipulatif, pemimpin berbaik hati pada bawahan, merubah perilaku untuk memastikan kesempatan, keyakinan, harapan, membuat mereka berlomba satu sama lain, menentukan kembali tugas-tugas untuk menyeimbangkan beban kerja.
c.      Konsultatif, pemimpin terus terang dan memberi kesempatan bertanya, mendengarkan bawahan, mencoba ide mereka, memberikan perhatian kemajuan pada perubahan.
d.      Partisipatif, pemimpin membuat keputusan bersama, menyusun pertemuan, memasukan saran kelompok ke dalam operasi, memperlakukan bawahan sama, mudah didekati dan bersahabat.
e.      Delegatif, pemimpin menunjukkan kepercayaan pada bawahan, memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengikuti arah mereka sendiri, mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri.
4. Output
a.      Prestasi
b.      Kepuasan yang meliputi pekerjaan dan pengawas

10.   Model Kepemimpinan Situasional (Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard)
Dalam model ini, berdasarkan pendekatan situasional tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi seseorang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. Pendekatan berdasarkan atas hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan, serta tingkat kematangan bawahan. Kepemimpinan situasional berdasarkan saling pengaruh antara:
1.       sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan
2.       sejumlah pendukungan emosional (perilaku hubungan) yang pemimpin berikan
3.       tingkat kematangan yang ditunjukan oleh bawahan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi, atau sasaran.



HAKEKAT FILSAFAT ADMINISTRASI JIKA BERLANDASKAN TEORI X,Y DAN Z

Pengertian “filsafat administrasi
Pengertian filsafat administrasi perlu diketahui untuk menentukan titik tolak suatu bahasan, tujuannya, memperjelas pembahasan dan tidak keluar  jalur karena banyaknya persepsi yang mungkin bisa saja terjadi. Dua kata”filsafat” dan ‘administrasi” memperjelas dua obyek kajian.     Filsafat berasal dari dua suku kata philos dan sophia. Filsafat secara umum diartikan mencintai kebijaksanaan.   Dalam hal ini, ada kandungan pemahaman yang dalam sampai pada tingkat hakikat.     Tujuannya untuk mengetahui sesuatu dengan upaya pendalaman, baik hakikat, fungsi ,karakter, manfaat,permasalahan,hingga solusinya.
Sementara administrasi bisa dikatakan sebagai rangkaian proses kegiatan bersama yang melibatkan dua orang atau lebih dengan mengutamakan pertimbangan rasionalitas untuk usaha  pencapaian tujuan yang telah di teta pkan bersama. Bisa dikatakan,’administrasi’ itu adalah suatu seni pengorganisasian.
Pengertian “teori X,Y dan Z
    saya telah mempelajari teori X,Y dan Z dari McGregor dari kuliah filsafat administrasi. Dari teori tersebut menjelaskan prinsip sederhana dalam memperlakukan dua tipe pekerja. Yang pertama       , pekerja bertipe Y adalah tipe manusia yang positif. Tipe ini sangat antusias dan proaktif dalam mengerjakan pekerjaan mereka.Ia adalah orang-orang yang telah menemukan passion di dalam pekerjaan mereka sehingga mengerjakan segala sesuatunya dengan sepenuh hati.

Lain halnya dengan pekerja bertipe X. Pekerja dengan tipe ini adalah mereka yang terjebak dalam rutinitas yang tidak disenanginnya.Mereka bekerja dengan perasaan malas dan tertekan.      Orientasi bekerja mereka adalah bagaimana menghindarinya sebisa mungkin, tetapi tetap mendapatkan upah bulanan.Maka perlakuan dari dua tipe pekerja ini pun tentu berbeda. 

Sifat manusia yang di asumsikan teori X
1. Tidak menyukai bekerja
2. Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah
3. Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalahorganisasi.
4. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.
5. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi.
Sedangkan secara keseluruhan asumsi teori Y mengenai manusia adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan lepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jira keadaan sama-sama menyenangkan.
2. Manusia dapat mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
3. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
4. Motivasi tidak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
5. Orang-orang dapat mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.
“teori Z”
Bahwa apabila semua dalam kondisi kerja yang baik, maka pengarahan yang dilakukan sebaiknya mengambil segi baik dari teori X dan teori Y.
Jadi jika seorang pemimpin ingin menciptakan seorang pekerja yang berkualitas bertipe Y seharusnya sebuah perusahaan menerapkan teori Z terlebih dahulu.Perusahaan tidak hanya memberdayakan karyawannya,tetapi juga mengkayakan (dari segi finansial maupun intelektual, soft skill dan hard skill) para karyawan. Selain empowerment keluar, karyawan mendapatkan enrichment kedalam.

Memang tidak semua karyawan yang akan beralih menjadi pekerja bertipe Y semua setelah perusahaan menerapkan teori Z. Namun setidaknya hal tersebut menjadi lingkaran positif yang akan memberikan sinergi positif antara perusahaan dan pekerja. Apa yang kita lihat sekarang ini, demo pekerja dan buruh pabrik, aksi mogok kerja dan lain sebagainya adalah akibat diterapkannya ekonomi kapitalistik dan liberalistik dalam dunia bisnis. Sehingga menafikan peran karyawan yang juga turut andil dalam memajukan perusahaan


Sabtu, 01 November 2014

FILSAFAT ADMINISTRASI

Teori kepemimpinan situasional atau the situasional leadersip teori adalah teori kepemimpinan yang dikebangkan oleh paulhersey, menulis buku situasional leader. Inti dari teori kepemimpinan situasional adalah gaa kepemimpinan seorang pemimpin akan berbeda-beda, tergantung dari tingkat kesiapan para pengikutnya. Kepemimpinan yang efektif bergantung pada relefansi tugas dan hampir semua pemimpin yang sukses selalu mengadaptsi gaya kepemimpinan yang tepat.

Teori kepemimpinan situasional bertumpu pada konsep fundamental tingkat kesiapan atau kematangan individu atau kelompok dan gaya kepemimpinan.(follower readiness) tingkat kesiapan atau kematangan pengikut di tandai oleh karakteristik kesiapan menunjukan pengikut tidak mampu dan tidak mau mengambil tanggung jawab untuk melakukan suatu tugas menunjukan pengikut tidak mampu melakukan suatu tugas tetapi sudah memiliki kepemimpinan leadership stye ,hersey dan blanchar memilih gaya kepemimpinanenga dalam perilaku kerja dan perilaku hubungan yang harus di terap kan ,kategori keseluruhuan gaya kepemimpinan di identifikasi teling pemberitahuan gya andengan komunikasi stu arah ,selling penjual gaya yang paling tepat untuk kesiapan pengikut moderat participating partisipatif gaya paling tepat untuk kesiapan pengikut tinggi dengan motivasi moderat.

Deleting (pendelegasian) yaitu gaya kepemimpinan gaya paling tepat untuk persiapan untuk pengikut tinggi,mengembangkan dan memotivasi pengikut.seorang pemimpin yang baik mengembangkan kopetensi dam komitmen dari pengikut.
Menurut CEN BLANCARD 4 kombinasi kopetensi dan komitmen akan menciptakan tingkat perkembangan yang disebut dalam notasi di bawah ini,yaitu:
·         Kopetensi rendah dan komitmen yang tinggi
·         Kopetensi reduh dan yang rendah
·         Kopentensi tinggi dan komitmen yang rendah

·         Kopentensi tinggi dan komitmen yang tinggi